2024 penuh tangis

 Tahun 2024 benar benar overwhealming bagi keluarga kami. Hari demi hari terasa berat kami jalani. Tangis pun lebih banyak daripada bahagia.

Ada satu bulan dimana aku nangis hampir tiap hari. Rasanya kami sudah hidup apa adanya, berada dijalan yang lurus, bekerja dengan benar tp ada saja orang yg mendzolimi kami dan cobaan silih berganti. Mungkin ini teguran dari Allah, mungkin juga kami banyak dosa dimasa lalu sehingga ingin dibersihkan didunia atau mungkin Allah ingin kami lebih dekat dengan Nya.

Keluar dari satu masalah, bertemu lagi masalah yang lebih besar. Itulah hidup kami di 2024 ini. Hari demi hari rasanya cepat sekali, tidur tidak nyenyak, bangun² kepala berat.

Pernah satu hari mengeluh "ya Allah berat banget, aku capek nangis terus, tiap hari nangis, cukup ya Allah aku capek nangis terus" setelah itu pasrah. "Ya Allah aku pasrah, aku ikutin aja jalan Mu ya Allah"

Suami tiap hari optimis bahwa masalah ini pasti ada ujungnya dan kami akan segera menemukan jalan keluar. Tp kemudian dihadapkan pada masa dimana dia sampai pasrah, karna jalan keluar semakin menjauh. "Aku dah pasrah, aku selesai kali ini, aku benar² selesai, tolong titip anak anak kamu yang tabah dan kuatkan hati untuk anak² kita, kalau anak² tanya papa dimana jawab aja "papa kerja diluar negri jauh pulangnya lama", kamu harus pelan² latihan kerja untuk anak² karena kasihan kalau harus mengandalkan nenek untuk hidup" aku sampai memastikan dengan menjawab "aku harus gimana kali ini, anak² gimana, nanti kedepan anak² gimana kalau tanya, tapi kamu ngga mati kan?". Untungnya suamiku ngga pernah sedikitpun memikirkan mengakhiri hidupnya. Dia masih punya iman dan selalu berkata "sayang sekali kalo sampai b*n*h d*r* udah di neraka kekal, didunia pun masalah ngga selesai, keluarga malu, anak² kasihan, gak akan selesai masalah"

Ditahun ini pula kehidupan rumah tangga kami seperti diombang ambing, memanglah ekonomi dan hutang itu selalu jadi biang dari masalah rumah tangga. Tiap bulan pasti ada bertengkar, tahun ini adalah yang terburuk, suami benar² jadi seemosi itu, mungkin karna tekanan dari orang² juga. Aku bahkan tiap hari kepikiran untuk pisah, tp kalau ingat hutang pikiran itu buru² ditepis. Beberapa kali kali bertengkar dihadapan anak, bahkan anak pertama kami sudah biasa melihat hal itu, tapi anak kedua yang masih 1 tahun ini pernah ketakutan dan terdiam melihat kami bertengkar.

Anak pertama memang benar² menjadi anak yang paling kasihan.  Aku saking bingungnya mau curhat kemana akhirnya curhat ke anak, yang mana membuat mental anak menjadi down, terkadang ikut nangis. Anak 8 tahun aku ceritain masalah keluarga yg tidak baik² saja, keinginan untuk pisah dari papanya, tentang uang, ekonomi dan masih banyak lagi. Sampai teman dekatku bilang "jangan ceritain masalah ke anak, kasihan, cerita sama aku aja kalo ada masalah, aku siap dengerin kapanpun". Padahal anak seumuran itu harusnya cuma tau main sama teman, belajar dan ngaji. Maafin mama papa ya naak, kami janji ini tahun terakhir kita sedih. Tahun depan dan selanjutnya kita harus bahagia ya, kamu harus sabaar. 

Anak pertama pula yang melihat jatuh bangunnya orang tua. Aku pernah sesedih itu melihat anak pertamaku harus ngojek setiap hari untuk berangkat dan pulang sekolah (ketika mobil kami jadi jaminan), dia menerima itu dan semangat sekolah tiap harinya walaupun teman²nya diantar pakai mobil. Puncak kesedihanku adalah satu hari dimana sekolah diadakan hari sumpah pemuda, semua diharapkan pakai baju pahlawan dan membawa uang saku maksimal 50rb karena ada stand makanan (btw disekolah anakku ada makan siang, jadi anak² ga pernah dibawain uang saku, hanya hari² tertentu aja ketika ada bazar makanan). Aku tidak tahu info itu, karena jarang membuka WA group sekolah, karena kondisi saat itu aku stres berat dengan kehidupan, sehingga anakku tetap pakai seragam biasa dan tidak bawa uang saku. Sedangkan kondisinya anakku ngojek, aku gatau kan anakku disekolah salah kostum. Tau² pas guru mengirimkan video ke group. Aku lemeees, merasa bersalah dan nangis. Ketika anak pulang diaa nangis karna ngga bisa jajan, baju beda sendiri, difoto dan video dia ceria tapi katanya gini "aslinya aku sedih ma, tp difoto itu aku ketawa² aja". Sediiih bukan main, kita nangis bareng, merasa gagal jadi orang tua, karena mengabaikan anak. (Dan dihari ini adalah hari ulang tahun anakku) untungnya ada cake serta pizza dari onty dan nenek.

Capek sekali rasanya menjalani hari ditahun ini, benar benar secapek itu, terima kasih buat pikiran dan tubuhku yang udah kuat menopang ini semua. Terima kasih juga untuk anak²ku yang sabar dan penurut. Aku benar² diberkahi anak² yang luar biasa baik dan mengerti keadaan orang tua.

Ya Rabb, ijinkan aku bahagia di tahun 2025, aku hanya ingin hidup tenang dan lepas dari hutang² yang tiap hari membebani pikiran ini. Anak anak sehat dan keluarga kami bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Pindahin Sekolah Anak dari Kota ke Kampung

End of 2024